Kamis, 15 Desember 2011

kajian puisi (struktural)


Surat Cinta- WS Rendra
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !
Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !
Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan.
Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu :
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain ……
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.
Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit :
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.
Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !

Mengkaji Puisi Surat Cinta dengan menggunakan Analisi Struktural;
Struktur Fisik Puisi Surat Cinta ;
Ø  Diksi
Dalam Puisi ini penyair memilih kata-kata yang cermat yang berisikan ungkapan perasaannya terhadap wanita pujaannya. Untuk menunjukan rasa cintanya itu, penyair menyebutkan /wahai, dik Narti, aku cinta kepadamu/,wahai, dik Narti, kupinang kau menjadi istriku/, Wahai, dik Narti, dengan pakaian pengantin yang anggun bunga-bunga serta keris keramat aku ingin membimbingmu ke altaruntuk dikawinkan Aku melamarmu/, Wahai, Dik Narti kuingin dikau menjadi ibu anak-anakku/. Ini merupakan salah satu bukti dari perasaannya yang dituliskan melalui puisi tersebut. Susunan kata-kata di atas tidak dapat diubah walaupun perubahan itu tidak mengubah makna. Penyair telah memperhitungkan secara matang susunan kata-kata itu. Jika diubah urutannya, maka daya magis kata-kata itu akan akan hilang. Keharmonisan antarbunyi yang terdapat didalamnya juga akan terganggu karna susunan kata tersebut menimbulkan efek psikologis.
Ø  Pengimajian
Dalam hal ini penyair menggunakan imaji taktil. Dimana penyair mengajak pembaca seolah-olah merasakan sentuhan perasaan. Buktinya;
/Kutulis surat ini/kala langit menangis/dan dua ekor belibis bercintaan dalam kolam/bagai dua anak nakal jenaka /dan manis mengibaskan ekor/serta menggetarkan bulu-bulunya,/Wahai, dik Narti,/kupinang kau menjadi istriku !//
Semua kata-katanya digambarkan dengan bayangan perasaan penyair yang  menginginkan seseorang untuk menjadi istrinya.
Ø  Kata Kongkret
/Kutulis surat ini/kala hujan gerimis/bagai bunyi tambur yang gaib,/Dan angin mendesah/mengeluh dan mendesah,/Wahai, dik Narti,/aku cinta kepadamu !//
Untuk memperkongkret perasaannya dalam surat cinta itu, penyair langsung menuliskan /aku cinta kepadamu/kupinang kau menjadi istriku/melamar/ dan yang terakhir kuingin dikau menjadi ibu dari anak-anakku//
Penyair disini langsung mengungkapakan perasaannya dengan kata-kata didalam puisi ini.
Ø  Bahasa Figuratif
Salah satu bukti dari bahasa Figuratif yang digunakan penyair adalah;
Engkau adalah putri duyung/tawananku/Putri duyung dengan suara merdu/lembut
bagai angin laut,/mendesahlah bagiku. Penyair menggunakan majas metafora, Personifikasi dan majas Perbandingan untuk mewakili sebagian dari kata-katanya.
Ø  Versifikasi
Bukti dari versifikasi yakni;
Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis
Bagai bunyi tambur mainan
Anak peri dunia yang gaib
Dan angin mendesah
Mengeluh dan mendesah
Bunyi desis yang dominan menciptakan suasana gelisah. Bunyi itu dipadu dengan /b/,/t/,dan/r/. Pada baris kelima dan keenam, konsonan /h/ mempertegas kegelisahan itu. Perpindahan antara bunyi desis /s/ dan /h/ dengan menggunakan  huruf /n/ dan angin mendesah. Bunyi dalam puisi ini sangat merdu dan efektif.
Puisi ini juga menggunakan pengulangan kata/ungkapan seperti /Wahai, Dik Narti/ dalam tiap bait penyair menggunakan kata ini, disini penyair mempertegas bahwa surat cintanya ini untuk kekasihnya Narti.
Ø  Tipografi
Tipografi puisi iniadalah tipografi puisi konvensional artinya tidak menyimpang dari puisi pada umumnya. Klimaks dari puisi ini terdapat pada bait terakhir, kalau penyair menginginkan kekasihnya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.

Struktur Batin Puisi Surat Cinta;
Ø  Tema
Temanya Percintaan, dimana penyair menggambarkan tentang ungkapan perasaannya terhadap kekasihnya. Yang mengharapkan kekasihnya dapat menjadi istrinya kelak.
Ø  Perasaan
Dalam puisi ini penyair menggambarkan perasan cinta yang begitu bahagia. Perasaan yang timbul dari dasar hatinya yang paling dalam yang membuat dia untuk melanjut ke jenjang yang lebih tinggi yakni Pernikahan.
Ø  Nada dan Suasana
Dengan puisi ini Rendra mengajak pembaca merasakan besar cintanya terhadap kekasihnya . Penyair bersikap lugas hanya menceritakan perasaannya yang menimbulkan kebahagiaan terhadap kekasihnya.
Ø  Amanat
“Saling menghargai antara dua kekasih merupakan landasan lestarinya cinta mereka. Dan cinta itu bukan dorongan jasmaniah dan nafsu seksual belaka, namun merupakan panggilan Tuhan. Sebab itu, percintaan masa remaja harus diteruskan ke jenjang perkawinan untuk meningkatkan martabat kemanusiaan kita”

“Tindakan mungkin tidak akan selalu mendatangkan kebahagiaan, tapi tidak akan ada kebahagiaan tanpa tindakan”
Selamat berkarya

1 komentar:

Esaf Malioy mengatakan...

Hallo dik Yohana yang baik, cantik dan asyik!

Sebelumnya saya mohon maaf karna saya hanya pemerhati dan ingin belajar dari dik Yo.

Kajiannya luar biasa dan ada hal menarik yang ingin saya diskusikan dengan dik Yo.

1. Bisakah perasaan dik sama dengan saya?
2. Bagaimana bisa meyakinkan seseorang bahwa yang lisan dan tertulis sama?
3. Bisakah orang lain memberikan final atas perasaan seseorang ?

Saya mencermati bait berikut ;

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !

saya coba memberikan pandangan;

1. sesungguhnya penulis tidak jatuh cinta
2. penulis hanya memainkan perasaannya
3. penulis mengharapkan gadis itu untuk mengamankan hidupnya dari duka lama
4. akhirnya penulis tidak terlalu berharap untuk menikahi gadis itu

Trims ya, JLU !

Posting Komentar