Minggu, 30 Oktober 2011

Dampak Akademis bagi Mahasiswa di Kampus


Selain menciptakan generasi muda yang berpontensial dan profesional, ternyata akademis juga ikut berperan didalam menelurkan generasi-generasi muda yang tidak jujur. Konteks ini akan berkaitan dengan kejadian atau peristiwa ketidak jujuran yang dilakukan oleh mayoritas mahasiswa/i yang sudah menjadi budaya dilingkungan kampus. Semula saya ragu apakah ini hanya terjadi di kampus tertentu atau tidak? Namun setelah mendapat informasi dari teman-teman yang kuliah di universitas lain, ternyata hal ini juga terjadi dikampus mereka. Oleh karena itu, saya mengajak pembaca untuk ikut berinteraktif atau bertukar pikiran didalam tema ini. Minimal saran pembaca untuk perbaikan didunia pendidikan. Sehingga diharapkan dimasa mendatang Dunia Pendidikan dapat menciptakan generasi yang potensial, profesional, dan berjiwa jujur.
Tak lupa juga saya meminta maaf jika ada pembaca yang tidak sependapat dengan pemikiran penulis. Tulisan ini semata-mata hanya sebuah realita dan wacana.
Ketidak jujuran itu berupa:
  1. Budaya membuat contekkan diwaktu ujian
Mungkin sudah banyak di antara kita yang pernah mengalaminya bukan? Sebenarnya geli & bercampur sedih juga sich apabila melihat realita yang ada.
Contoh nyata dalam perkuliahan kita sehari-hari.
Waktu ujian akan dimulai 30 menit lagi. Namun anak-anak sudah pada berebut untuk memasuki ruang kelas tempat ujian akan dilaksanakan. Kadang kita heran melihat sikap teman seperti itu. Dan yang terpikir di benak kita yaitu; “kenapa mereka pada berebut masuk ya? kan waktu ujian baru akan dimulai 30 menit lagi”. Lagian tempat duduk juga tersedia dalam jumlah yang memadai. Dalam artian gak bakalan ada mahasiswa/i peserta ujian yang gak kebagian tempat duduk.
Disaat saya masuk ke dalam kelas mengikuti mahasiswa/i yang sudah masuk duluan. Saya mencari tempat duduk yang paling depan. Lalu saya buka tas, dan mengambil buku catatan mata kuliah yang akan diujikan. Saya pun kembali membaca catatan-catatan dan menghapalkan apa yang dicatat didalam buku tsb. Sejenak saya menghela nafas, lalu melihat ke sekeliling ruangan kelas. Ternyata yang terlihat adalah hampir semua mahasiswa/i sedang asyik merangkum (bikin contekan) catatan mata kuliah dan diletak diatas sandaran tangan kursi tempat mereka duduk. Kejadian serupa juga saya temui dimata kuliah lainnya yang diujiankan

  1. Sikap Dosen Yang Acuh Tak Acuh
Apapun yang dilakukan oleh anak-anak pasti bukannya tidak diketahui oleh dosen-dosen di kampus. Namun sepertinya sikap dosen gak peduli atau masa bodoh terhadap apa yang dilakukan oleh mahasiswa/i nya. Tindakan gak jujur ini sepertinya merupakan hal yang biasa dan sudah membudaya. Kalau sudah begini krisis identitas mahasiswa pasti akan membobrok. Mau jadi seperti apa generasi-generasi muda yang akan datang? Bisa jadi negara Indonesia terkenal Korupsinya karena memang sudah dari sekolah, kuliah, secara tidak langsung sudah dididik untuk berbuat tidak jujur.
  1. Konsep Pembelajaran Mata kuliah Yang Perlu Dirubah
Dari yang saya alami, kebanyakan para mahasiswa/i disuguhi oleh mata kuliah yang bersifat teori, atau hapalan-hapalan. Menurut pendapat saya konsep pembelajaran seperti ini tidak merangsang dan melatih kemampuan mahasiswa/i untuk berpikir secara inovatif, keratif dan imajinatif. Pola ini mendidik generasi kita menjadi generasi yang pemalas, peniru dan tidak kreatif (sudah terbukti kan…barang apa yang tidak dibajak di Indonesia???).
Nah…sudah saatnya pola tersebut diganti dengan konsep pembelajaran yang lebih merangsang kemampuan daya pikir mahasiswa untuk ikut berinteraktif disetiap mata kuliah.
Mencegah Perbuatan Tidak Jujur
Tindakan tegas terkadang diperlukan apabila kondisi mahasiwa/i mayoritas sudah bermental pencontek atau peniru. Ini diperlukan untuk membiasakan atau pembelajaran diri masing-masing mahasiswa/i untuk lebih giat belajar, percaya diri, inovatif dan bersikap mental jujur. Sehingga diharapkan apabila setelah lulus kelak, para mahasiswa/i menjadi tenaga yang professional sesuai dengan salah satu VISI PMK UPI. Siap dalam artian siap bersaing, siap menghasilkan karya yang berguna,  bermental baik dan yang lebih penting takut akan Tuhan.
Sungguh sulit memang untuk merubah karakter yang sudah mengakar dan membudaya. Tapi disaat kita punya kemampuan, jalan pasti dibukakan bagi kita.. meskipun proses itu sesulit seperti menegakkan benang basah, tapi percayalah setiap talenta yang kita miliki akan membawa kita ke dalam keberhasilan. Hal ini bisa terjadi, tapi perlu waktu, komitment, dan kepedulian yang tinggi dari semua pihak. Dan jelas itu memerlukan pengorbanan.
“seorang yang professional adalah seorang yang bisa melakukan pekerjaan terbaiknya ketika dia sedang enggan tuk melakukannya”(Alistair Cooke)
“Tindakan mungkin tidak akan selalu mendatangkan kebahagiaan tapi tak akan ada kebahagiaan tanpa tindakan”(Benyamin)

0 komentar:

Posting Komentar