Minggu, 30 Oktober 2011

#sing
seandai.a kw tw btp ak mngingikanmu
seandai.a kw dpt mrasakn hl yg sm sperti yg ku rasakn
dan aku hny ingn kw tw btp besar rsa cntaku kpdmu
dan aku hnya ingn merasakn perasaan yg sm saat kw brsma dgnku
aku mnginginkanmu lebih dr sgla.a yg ku ingnkan
aku mncntaimu stlus.a htku berkata;
kw MALAIKATku, ku merindukan mu

....love"bunda"

YOHANA VIONITHA PANJAITAN
Lahir di Rantauprapat, 21 Juli 1992. Anak ke_4 dari enam bersaudara dari Bapak V.P. Panjaitan dengan Ibu M.B. Hutapea. Ia dari keluarga yang sederhana, dan dari kesederhanaannya itu ia memiliki berjuta kebahagiaan dengan keluarga yang ia miliki. Papanya berfropesi sebagai seorang pendidik dan Ibunya berfropesi sebagai Wiraswasta.
Ia menamatkan pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 112162 Rantauprapat (2004), pendidikan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 2 Rantauprapat (2007), pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 2 Rantauprapat (2010). Dan kini tengah melanjutkan studi S1 di PTN Universitas Pendidikan Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (FPBS) semester 2.
Ia seorang anak yang bisa dikatakan yang selalu cukup beruntung. Sehingga semenjak duduk di bangku SD sampai SMA ia banyak mencapai prestasi yang cukup luar biasa. Adapun prestasi yang diraihnya yaitu;
  • Sekolah Dasar
Ia meraih juara 1 dalam Lomba Lari tingkat kabupaten disaat duduk kelas 5 SD. Dilanjutkan saat duduk di bangku 6 SD ia ikut dalam lomba Paduan Suara yang mendapat juara 1 di tingkat Kabupaten
  • Sekolah Menengah Pertama,
Disaat ia duduk di bangku 2 SMP ia juga terutus untuk salah satu personil Paduan Suara yang tidak kalah menggubrak juga. Ia mendapat juara 1 juga dari tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Tingkat Propinsi. Ia sangat bahagia karena ia dapat mencapainya dengan maximal. Ia pun pergi keluar kota dengan teman-temannya yang lain untuk melanjutkan pertandingan berikutnya. Mereka pun kegembiraan karena mendapat pengalaman yang luar biasa.
  • Sekolah Menengah Atas
Awal saat ia duduk di kelas 1, dia masuk group Marching Band. Dia pun terpilih sebagai sekretaris group tersebut. Saat hari pendidikan tanggal 2 mei mereka performance, dan jiwa semangat mereka sangat luar biasa. Dan disaat ia duduk di bangku kelas 3 ia tampil lagi dalam Festival Marching band tingkat kabupaten dan mereka mendapat juara 2 umum. Dengan gembira, mereka setim membawa 5 piala sekaligus kesekolah.
Dimana-mana ia selalu mendapat pengalaman yang sangat berharga sampai-sampai ia menjadi bintang disekolah-sekolah lain. Selain dari itu juga, suaranya juga sudah tidak diragukan lagi. Tepatnya memperingati hari guru, ia dan kedua temannya yang lain di undang oleh bupati untuk mengisi acara yang diselenggarakannya. Sungguh luar biasa kehidupan yang dilewatinya.
Kalau dalam pengalaman organisasinya tidak diragukan lagi, dari SMP sampai SMA dia selalu menjabat bendahara dan sekretaris. Secara personality, Ia adalah orang yang sederhana tampak dari luar, namun berusaha menjadi luar biasa dalam menjalani kehidupannya. Ia adalah seorang yang penuh percaya diri karena dia  yakin Tuhan senantiasa menjaga dan melindungnya. Sehingga ia selalu bersemangat mencapai apa yang ia cita-citakan seturut dengan kehendak Allah. Ia akan berusaha menyelesaikan apa yang menjadi tanggungjawabnya secara optimal.
Prinsip hidupnya adalah mensyukuri setiap pemberian Tuhan serta menjalani apapun kehendak Tuhan atas hidupnya dengan penuh sukacita. Karena dia percaya Tuhan turut serta dalam hidupnya dan Tuhan tahu akan kerinduan isi hatinya. Jadi ia tidak pernah khawatir akan hari esoknya. Harapannya hanya ingin menjadi yang terbaik dimanapun ia berada. Oleh sebab itu, ia tidak pernah takut dengan kegagalan, karena baginya kegagalan justru guru dan pengalaman yang terbaik untuk menjadi seorang yang sukses. Dengan kegagalan dia mampu melihat seberapa besar potensinya dan dapat berbuat yang lebih baik kedepannya.
Inilah pribadinya, “do the best thing for something the best.. keep smiling and keep shining.

Dampak Akademis bagi Mahasiswa di Kampus


Selain menciptakan generasi muda yang berpontensial dan profesional, ternyata akademis juga ikut berperan didalam menelurkan generasi-generasi muda yang tidak jujur. Konteks ini akan berkaitan dengan kejadian atau peristiwa ketidak jujuran yang dilakukan oleh mayoritas mahasiswa/i yang sudah menjadi budaya dilingkungan kampus. Semula saya ragu apakah ini hanya terjadi di kampus tertentu atau tidak? Namun setelah mendapat informasi dari teman-teman yang kuliah di universitas lain, ternyata hal ini juga terjadi dikampus mereka. Oleh karena itu, saya mengajak pembaca untuk ikut berinteraktif atau bertukar pikiran didalam tema ini. Minimal saran pembaca untuk perbaikan didunia pendidikan. Sehingga diharapkan dimasa mendatang Dunia Pendidikan dapat menciptakan generasi yang potensial, profesional, dan berjiwa jujur.
Tak lupa juga saya meminta maaf jika ada pembaca yang tidak sependapat dengan pemikiran penulis. Tulisan ini semata-mata hanya sebuah realita dan wacana.
Ketidak jujuran itu berupa:
  1. Budaya membuat contekkan diwaktu ujian
Mungkin sudah banyak di antara kita yang pernah mengalaminya bukan? Sebenarnya geli & bercampur sedih juga sich apabila melihat realita yang ada.
Contoh nyata dalam perkuliahan kita sehari-hari.
Waktu ujian akan dimulai 30 menit lagi. Namun anak-anak sudah pada berebut untuk memasuki ruang kelas tempat ujian akan dilaksanakan. Kadang kita heran melihat sikap teman seperti itu. Dan yang terpikir di benak kita yaitu; “kenapa mereka pada berebut masuk ya? kan waktu ujian baru akan dimulai 30 menit lagi”. Lagian tempat duduk juga tersedia dalam jumlah yang memadai. Dalam artian gak bakalan ada mahasiswa/i peserta ujian yang gak kebagian tempat duduk.
Disaat saya masuk ke dalam kelas mengikuti mahasiswa/i yang sudah masuk duluan. Saya mencari tempat duduk yang paling depan. Lalu saya buka tas, dan mengambil buku catatan mata kuliah yang akan diujikan. Saya pun kembali membaca catatan-catatan dan menghapalkan apa yang dicatat didalam buku tsb. Sejenak saya menghela nafas, lalu melihat ke sekeliling ruangan kelas. Ternyata yang terlihat adalah hampir semua mahasiswa/i sedang asyik merangkum (bikin contekan) catatan mata kuliah dan diletak diatas sandaran tangan kursi tempat mereka duduk. Kejadian serupa juga saya temui dimata kuliah lainnya yang diujiankan

  1. Sikap Dosen Yang Acuh Tak Acuh
Apapun yang dilakukan oleh anak-anak pasti bukannya tidak diketahui oleh dosen-dosen di kampus. Namun sepertinya sikap dosen gak peduli atau masa bodoh terhadap apa yang dilakukan oleh mahasiswa/i nya. Tindakan gak jujur ini sepertinya merupakan hal yang biasa dan sudah membudaya. Kalau sudah begini krisis identitas mahasiswa pasti akan membobrok. Mau jadi seperti apa generasi-generasi muda yang akan datang? Bisa jadi negara Indonesia terkenal Korupsinya karena memang sudah dari sekolah, kuliah, secara tidak langsung sudah dididik untuk berbuat tidak jujur.
  1. Konsep Pembelajaran Mata kuliah Yang Perlu Dirubah
Dari yang saya alami, kebanyakan para mahasiswa/i disuguhi oleh mata kuliah yang bersifat teori, atau hapalan-hapalan. Menurut pendapat saya konsep pembelajaran seperti ini tidak merangsang dan melatih kemampuan mahasiswa/i untuk berpikir secara inovatif, keratif dan imajinatif. Pola ini mendidik generasi kita menjadi generasi yang pemalas, peniru dan tidak kreatif (sudah terbukti kan…barang apa yang tidak dibajak di Indonesia???).
Nah…sudah saatnya pola tersebut diganti dengan konsep pembelajaran yang lebih merangsang kemampuan daya pikir mahasiswa untuk ikut berinteraktif disetiap mata kuliah.
Mencegah Perbuatan Tidak Jujur
Tindakan tegas terkadang diperlukan apabila kondisi mahasiwa/i mayoritas sudah bermental pencontek atau peniru. Ini diperlukan untuk membiasakan atau pembelajaran diri masing-masing mahasiswa/i untuk lebih giat belajar, percaya diri, inovatif dan bersikap mental jujur. Sehingga diharapkan apabila setelah lulus kelak, para mahasiswa/i menjadi tenaga yang professional sesuai dengan salah satu VISI PMK UPI. Siap dalam artian siap bersaing, siap menghasilkan karya yang berguna,  bermental baik dan yang lebih penting takut akan Tuhan.
Sungguh sulit memang untuk merubah karakter yang sudah mengakar dan membudaya. Tapi disaat kita punya kemampuan, jalan pasti dibukakan bagi kita.. meskipun proses itu sesulit seperti menegakkan benang basah, tapi percayalah setiap talenta yang kita miliki akan membawa kita ke dalam keberhasilan. Hal ini bisa terjadi, tapi perlu waktu, komitment, dan kepedulian yang tinggi dari semua pihak. Dan jelas itu memerlukan pengorbanan.
“seorang yang professional adalah seorang yang bisa melakukan pekerjaan terbaiknya ketika dia sedang enggan tuk melakukannya”(Alistair Cooke)
“Tindakan mungkin tidak akan selalu mendatangkan kebahagiaan tapi tak akan ada kebahagiaan tanpa tindakan”(Benyamin)
Bedah Buku
STAND
(Sebuah Panggilan akan Ketekunan Orang-Orang Kudus)

Description: http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/181755_192053274145798_108773949140398_671729_2231349_a.jpgStand: Sebuah Panggilan akan Ketekunan Orang-orang Kudus
"Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus." (Wahyu 14:12).
 Jawaban modern untuk memperbaiki kehidupan Anda, biasanya adalah "Mulailah sesuatu yang baru." Jika pernikahan Anda bermasalah, jika gereja Anda bermasalah, jika bos Anda menyebalkan, jika orang-orang menentang Anda, tinggalkan. Buatlah suatu perubahan. Menuju padang rumput yang lebih hijau.
Tetapi Firman Allah punya standar yang berbeda—suatu nilai yang indah yang memang sulit, tetapi membawa pada kepuasan yang mendalam dan upah yang agung yaitu "ketekunan."
Ketekunan, bertahan pada arah yang sama, dengan konsisten, sangat dibutuhkan dalam generasi kita yang terombang-ambing ini. Karena itu, buku yang penuh mendalam ini bukan hanya mengangkat nilai kebajikan seperti kesetiaan, ketabahan yang saleh tetapi juga menyaksikan kisah nyatanya dalam kehidupan Kristen sehari-hari lewat pengalaman John Piper—yang menyediakan konteks dan sudut pandang bagi seluruh buku ini—dan empat pengikut Kristus yang setia lainnya, yang masing-masing mewakili jenis ketekunan yang berbeda dari:
• John MacArthur yang dengan setia menggembalakan sebuah gereja dalam waktu yang lama... sampai ketaatan radikal Randy Alcorn dalam hidupnya;
• Pengejaran kekudusan yang dilakukan Jerry Bridges... sampai keberanian konstan Helen Roseveare dalam ladang misi yang dicabik oleh perang.
Jika Anda lelah dalam perjalanan iman Anda, buku ini akan membangkitkan dan memantapkan hati Anda yang koyak, dan membuat Anda bertahan dalam Kristus. Dan jika Anda memimpikan peralihan budaya Kekristenan dari sekadar hidup penuh pencobaan menjadi komitmen seumur hidup, teladan para hamba Tuhan ini dapat menjadi meterai bagi visi dalam hati dan pikiran Anda.


Data buku:
Judul asli         : Stand
Penulis             : Justin Taylor/John Piper
Penerjemah      : Natania Tiendas
Penerbit           : Pionir Jaya, Bandung, 2010
Tebal               : 221 halaman

Tentang penulis:
Justin Taylor adalah direktur proyek dan redaktur pelaksana ESV Study Bible (2008) dan seorang penerbit rekanan di Crossway Books. Bersama dengan John Piper, ia telah menyunting sejumlah buku dari konferensi Desiring God: A God-Entranced Vision of All Things; Sex and the Supremacy of Christ; Suffering and the Sovereignty of God; dan The Supremacy of Christ in a Postmodern World. Ia memposting tulisannya setiap hari di blognya, Between Two Worlds (http://thegospelcoalition.org/blogs/justintaylor/). Justin dan istrinya Lea memilki tiga orang anak.
John Piper adalah pengkhotbah di Gereja Baptis Bethlehem di pusat kota Minneapolis, AS sejak 1980. Beliau telah menginspirasikan para pembacanya kepada suatu hasrat akan supremasi Allah di dalam segala hal bagi sukacita setiap orang di dalam khotbah dan tulisannya. John telah menulis banyak buku laris, termasuk karya klasiknya "Desiring God" dan "God's Passion for His Glory", yang memenangkan Medali Emas ECPA. John dan istrinya Noel memiliki empat orang anak laki-laki yang sudah dewasa dan seorang anak perempuan yang masih sekolah.


Tuhan tidak meminta kita untuk sukses; Dia hanya meminta kita untuk mencoba.
Orang-orang hebat di bidang apa pun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-yiakan waktu untuk menunggu inspirasi